Rabu, 23 November 2011

feed ku <<<

feed ku <<<


Jembatan Selat Malaka Menghubungkan Malaysia dan Indonesia

Posted: 23 Nov 2011 08:31 AM PST

Menghubungkan Malaysia dan Indonesia, bernilai Rp114 trililun. Siapa yang untung?

 

VIVAnews – Dari daratan Dumai, Riau, pulau itu tampak mengapung seperti segugus gerumbul hijau. Tak begitu jauh, hanya dua puluh menit dengan kapal feri, pulau itu terjangkau sudah. Inilah Rupat, pulau terluar Indonesia, yang menghadap Selat Malaka.


Jangan menyesal bila tiba di sana tatkala hujan turun deras. Tak semua jalan diaspal. Kendaraan akan disergap jalanan berlumpur, dan bahkan kubangan. Seperti menegaskan nasib banyak pulau terluar di republik ini, infrastruktur di Rupat boleh dibilang payah.

Pulau itu berada di wilayah administrasi Kabupaten Bengkalis, salah satu daerah kaya dengan APBD sekitar Rp 3,1 triliun pada 2011. Tapi di Rupat, duit itu seperti tak deras mengalir. Sejumlah pojok pulau malah terisolir.

Dari Dumai, titik terdekat ke Rupat Selatan, memang hanya perlu ditempuh kurang setengah jam saja memakai feri roll-on roll-off (roro). Dari Rupat Selatan ke Rupat Utara butuh waktu tiga jam pakai sepeda motor. Tentu, itu kalau hujan tak turun. Soalnya, tak semua jalur darat dari utara ke selatan jalannya beraspal.

Dengan empat pelabuhan kecil--satu di Rupat Selatan, sisanya pelabuhan rakyat di utara, pulau itu terhubung dengan Bengkalis atau Dumai. Tak ada fasilitas bongkar muat kapal di pulau itu. Pelabuhan internasional hanya di Kota Dumai. "Pelabuhan di Rupat Utara hanya pelabuhan rakyat antarpulau saja," ujar Camat Rupat, Agus Syofian kepada VIVAnews.com, Jumat 11 Oktober 2011.
Begitulah. Tapi Rupat yang nyaris tak pernah dihitung itu kini mendadak tenar. Ada kabar dari Malaysia, satu jembatan spektakuler akan mengangkangi Selat Malaka. Dari Telok Gong, Malaka, Malaysia, jembatan itu ditarik sampai ke Pulau Rupat. Selat Malaka yang padat dilalui kapal-kapal dagang itu mengalir di bawahnya. Tak hanya itu, dari Rupat ke Dumai pun akan dibangun pula jembatan.

Tentu, semua bersorak gembira. Mimpi jembatan megah itu pun dimulai.

Hanya sekadar survei?
"Ini adalah hal penting," ujar Gubernur Riau HM Rusli Zainal menanggapi ide negeri jiran membangun jembatan itu. Baginya, bila proyek ini berjalan, Riau akan menjadi pintu masuk Malaysia.  Rusli sadar, bila akses infrastruktur selama ini menjadi kendala pertumbuhan ekonomi. Tanpa infrastruktur yang baik, pertumbuhan ekonomi tak bakal tercapai.

Camat Rupat Utara Agus Sofyan mengatakan, kalau akses dibuka, seperti jembatan Selat Malaka, tentu bisa mendongkrak pembangunan dan ekonomi 4 ribu warga di Pulau Rupat Utara.  "Permasalahan utama itu adalah akses," ujar Agus.

Lihat saja, ketika akses Rupat Utara ke Rupat Selatan dan Dumai sudah mulai membaik, warga tak lagi belanja ke Malaysia. Semua kebutuhan dipasok dari Dumai. Harga bisa lebih murah. Jadi infrastruktur jalan sangat mereka butuhkan. Termasuk listrik, dan air bersih.

Tapi sebagian warga malah tak begitu gembira. Razak, warga Rupat, mengatakan ide itu hanya janji kosong saja, sama seperti janji pemerintah untuk membangun Rupat. "Mereka sering survei, namun eksyen (aksi) tak ada," kata Razak.

Di Dumai, juga sama. Ruslan, warga Dumai, mengatakan kabar itu sudah tersiar lama sejak 1997. Tapi begitulah. Antara rencana dan tindakan tak seiring. "Kalau jalan, kami dukung saja," katanya kepada VIVAnews.com.

Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Investasi Kota Dumai Djamalus, tak mau berkomentar. Ia mengakui ekspor Dumai ke Johor akan meningkat bila jembatan itu berdiri.  "Tapi kalau soal jembatan, saya tidak mau mengomentari," kata Djamalus.

Begitu pula Kepala Badan Promosi dan Investasi (BPI) Provinsi Riau, Faisal Qomar Karim. Dia mengatakan, nilai investasi Indonesia, termasuk Riau akan bertambah dengan adanya Jembatan Selat Malaka.  Dengan jembatan itu, investor Malaysia juga mudah masuk ke Riau. Transaksi perdagangan juga semakin efisien. Biaya transportasi jadi lebih murah. Barang tak lagi berpindah dari kapal ke darat. "Khusus jarak pendek, seperti dari Riau ke Malaysia, biaya tranportasi kapal-kapal besar lebih mahal ketimbang jalur darat," ujar Faisal.

Proyek mahal

Tentu saja, jembatan itu akan menjadi proyek ambisius bagi Malaysia, dan juga Pemerintah Provinsi Riau. Calon investor yang punya hajatan ini, adalah Strait of Malacca Partners Sdn Bhd.  Mereka yakin, proyek ini penting bagi Malaysia, yang akan menjadi negara maju pada 2020. Semnetara, Indonesia pada 2025. "Jembatan ini akan menjadi landasan negara Asia Tenggara yang beragam dan secara cepat menjadi pusat kekuatan regional," begitu bunyi proposal Strait of Malacca Partners Sdn. Bhd.

Jembatan itu akan menyeberangi laut selebar 48 km, dari Teluk Gong ke Rupat. Dia tak sekedar jembatan biasa, tapi sekaligus juga tempat wisata.  Desainnya dibuat agar orang dapat menikmati dua sudut pandang berbeda. Bisa melihat laut, pulau, dan garis pantai yang indah. Itu sebabnya, dibutuhkan infrastruktur memadai, termasuk di Pulau Rupat.

Ini jelas bukan proyek ecek-ecek. Jembatan sepanjang 127,93 kilometer itu bakal menelan US$12,75 miliar, atau sekitar Rp114 triliun dengan kurs Rp8.930 per dolar AS.  Dana ini menjadi besar, karena tak hanya membangun jembatan yang menghubungkan Malaka dengan Pulau Rupat, tapi juga jalan di sepanjang Rupat Utara ke Rupat Selatan, dan lalu menembus Dumai, di Pulau Sumatera.

Jembatan utama panjangnya 48 km, biayanya sekitar US$11 miliar (Rp98 triliun). Sedangkan sisanya US$1,75 miliar (Rp15,6 triliun) untuk infrastruktur di Pulau Rupat sepanjang 71,2 km, dan jembatan sekunder sepanjang 8 km.

Proyek ini juga panjang, makan waktu 10 tahun. Studi kelayakan, dan pembuatan desain saja butuh empat tahun, sedangkan masa konstruksinya enam tahun. Kalau dimulai tahun ini, jembatan itu baru kelar pada 2021. Ditambah pengerjaan akhir dan lain-lain, operasi jembatan ini sudah bisa dilaksanakan pada 2023 atau 2025. Bila ditunda, nilai proyeknya lebih bengkak lagi karena inflasi.

Setelah kelar, proyek ini nantinya akan dioperasikan sebagai jalan berbayar alias jalan tol. Perusahaan memperkirakan, pendapatan tol mencapai US$182 juta (Rp1,6 triliun) pada 2025, dan US$776 juta (Rp6,9 triliun) pada 2075. Jembatan ini akan terus beroperasi hingga umur 120 tahun.

Wakil Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Syed Mohd. Hasrin Teungku Hussin mengatakan, proyek ini sudah matang dikaji. Tinggal menunggu persetujuan Indonesia. "Betul kami mengusulkan," kata dia kepada VIVAnews.com

Siapa untung?
Pengamat ekonomi dari Universitas Riau, Edyanus Herman Halim meminta pemerintah mengkaji lebih dalam pembangunan jembatan ini. Jangan sampai jembatan ratusan triliun rupaih itu lebih besar dampak negatif, daripada manfaatnya. Dia mengingatkan jembatan hanya menguntungkan  Malaysia. "Indonesia, khususnya Riau, tidak terlalu diuntungkan," katanya, kepada VIVAnews.com.

Kenapa demikian? Edyanus menjelaskan, saat ini data menunjukkan lebih banyak warga Indonesia, khususnya Riau, yang pergi ke Malaysia,  ketimbang sebaliknya. Jadi, kalau jembatan ini dibangun, tentu warga Indonesia bertandang ke negeri jiran jauh lebih deras lagi. "Warga Malaysia nggak akan ke Riau untuk berwisata. Keuntungan ekonomis meningkatkan kesejahteraan warga setempat juga tidak akan signifikan. Yang diuntungkan hanya Malaysia," katanya.

Akan lebih baik, lanjutnya, bila pembangunan infrastruktur itu digencarkan di lokal Indonesia dulu. "Coba bangun tol Pekanbaru-Dumai, itu akan lebih bagus. Atau tol trans Sumatera. Ini bisa menggerakkan perekonomian dalam bangsa kita," ujar Edyanus.

Pemerintah Indonesia sendiri pun tampak tak begitu bersemangat. Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan, pemerintah tetap akan mementingkan pembangunan Jembatan Selat Sunda terlebih dulu. "Sepertinya [pembangunan Jembatan Selat Malaka] belum," katanya, menjawab pertanyaan VIVAnews.com beberapa waktu lalu. "Jembatan Selat Sunda dulu."

Suara serupa dari Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. Pemerintah tak akan berkomitmen terlalu cepat dalam soal Jembatan Selat Malaka. Jakarta akan memfokuskan membangun Jembatan Selat Sunda terlebih dulu. "Kami tak akan membangun Jembatan Selat Malaka sebelum Jembatan Selat Sunda jadi," kata Hatta.
Jembatan spektakuler di Selat Malaka itu sepertinya masih akan panjang singgah di mimpi banyak orang. (Laporan: Ali Azumar | Riau, np)

 

Review Novel SMALL LETTER TO GOD

Posted: 23 Nov 2011 08:02 AM PST

IF I CAN BACK
I WANT NO CRIES
IF I CAN BACK
I DO NOT WANT NO MORE THE SAME THING HAPPENED TO ME HAPPEN TO ANYONE
GOD, IF I CAN pleading
DO NOT THERE IN THE WORLD tears and sorrow AGAIN
GOD, IF I CAN YOU WRITE A LETTER
DO NOT SEPARATE ME FROM FRIENDS AND PEOPLE I loved.
I WANT TO BE LIKE ADULT BIRD CAN FLY WHEN THEY ARE ADULTS
 I WANT , My FATHER SEES ME, WHEN I HAVE THE MOVEMENT HAIR BEAUTY AGAIN ..
My Lord, my little LETTER IS MY LAST REQUEST, IF I CAN BACK

 
That string of words listed in small letters to God. Agnes Davonar, better known as an online short story writer had the opportunity to pour the real story of this little girl in a form of literature.sHe is Gitta Sassa Cantika Wanda, we knew him as a former artist era 1998. This little girl the main character in the novel Small Letter To God who was convicted terminal cancer and is predicted to live her life just five days away.At the age of just turned 13 years old, a rare malignant cancer
attacked her and nearly made her face look like a monster.Doctors who examined convicted Gitta ..... she will die within 5 days if you do not do surgery.Her parents were hard decisions, however, as parents, they can not bear to see her daughter had lost half her face because of the operation.Pathway to malignant cancer cases by Gitta be the first case that occurred in Indonesia and became a debate in the medical community because the cancer usually only occurs in older people.However, God's infinite justice. With all her efforts to end a parent, Gitta get a chance to recover after surviving 6 months through kemotrapi to kill cells - cancer cells that eats away at her body.
 
Once Kemotrapy, capable
threshing all existing hair on her body, and small body Gitta have to live it up .. 25 times to get rid of.... However, the hardness of Gitta and enthusiasm to continue to survive are able to make the air breathe six months longer. Stunned the medical world was made for the success of a team of Indonesian doctors to slow the growth of cancer cells Ditta. Because in some cases, the rare cancer took the life of this able in a matter of days.When all the people rejoiced in the healing of Gitta, but apparently it's just a better chance opportunity... fter six months, the cancer coming back by becoming more virulent. Gitta was resigned to spend her life with cancer are increasingly mengganas face up to touch the lungs caused by asbestos.Remarkably, with a face that has almost disappeared, and like a monster, he is desperate to complete school education. Even lashing insults from people who saw she did not care about. And, the saddest part is when a test class rise while unable to move her hand up to her nose bleed nosebleed, she still wanted to continue the exam and pass the next grade.she commitment as strong as steel until - until mother Megawati gave special appreciation to him as an exemplary student.But .... death is a certainty. God had other plans in the girl. Free him from the pain he suffered.And finally, after three years he fought ferociously against cancer, the Lord came to fetch her.Ditta biography by Agnes Danovar rewritten and published by Scholastic. This touching story is an inspiration of life. How can a little girl struggling with so great, until the second - the second death ... it can be completed sebuat letter addressed to God and to us all ....

Resensi Novel SURAT KECIL UNTUK TUHAN

Posted: 23 Nov 2011 07:34 AM PST

ANDAI Aku BISA KEMBALI
Aku INGIN TIDAK ADA TANGISAN
ANDAI Aku BISA KEMBALI
Aku TIDAK INGIN ADA LAGI HAL YANG SAMA TERJADI PADAKU
TERJADI PADA SIAPAPUN
TUHAN ANDAI Aku BISA MEMOHON
JANGAN ADA TANGIS DAN DUKA DI DUNIA LAGI
TUHAN ANDAI Aku BISA MENULIS SURAT UNTUKMU
JANGAN PISAHKAN Aku DARI SAHABAT DAN ORANG YANG Aku SAYANGIN.
Aku INGIN MENJADI DEWASA SEPERTI BURUNG YANG BISA TERBANG KETIKA IA DEWASA
Aku INGIN AYAH MELIHAT Aku KETIKA Aku MEMILIKI LAGI KEINDAHAN GERAIAN RAMBUT..
TUHAN SURAT KECILKU INI..
ADALAH PERMINTAAN TERAKHIKU ANDAI Aku BISA KEMBALi


Itulah untaian kata yang tertera dalam surat kecilnya kepada Tuhan. Agnes Davonar, yang lebih dikenal sebagai cerpenis online mendapat kesempatan untuk menuangkan kisah nyata gadis kecil ini dalam sebentuk karya sastra.
Dialah Gitta Sassa Wanda Cantika, kita mengenalnya sebagai mantan artis cilik era 1998. gadis kecil inilah tokoh utama dalam novel Surat Kecil Untuk Tuhan yang divonis menderita kanker ganas dan diprediksi hidupnya hanya tinggal 5 hari lagi. 

Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, sebuah kanker ganas yang langka mnyerangnya dan nyaris membuat wajahnya menjadi tampak seperti monster. 
Dokter yang memeriksanya memvonis gitta ..... dia akan mati dalam waktu 5 hari bila tidak melakukan operasi. 
Orang tuanya berat mengambil keputusan, bagaimanapun juga sebagai orang tuanya, mereka tidak tega melihat separuh wajah putrinya harus hilang karena operasi. 

Kasus kanker ganas yang diidap oleh Gitta menjadi kasus pertama yang terjadi di Indonesia dan menjadi sebuah perdebatan di kalangan kedokteran karena kanker tersebut biasa hanya terjadi pada orang tua. 
Namun, Tuhan memang maha adil. Dengan segala upaya akhirnya orang tua nya, Gitta mendapatkan kesempatan untuk sembuh setelah bertahan selama 6 bulan melalui kemotrapi untuk membunuh sel - sel kanker yang menggerogoti tubuhnya.
 Sekali Kemotrapi, mampu merontokka semua rambut yang ada di tubuhnya, dan tubuh kecil Gitta harus menjalaninya hingga ..25 kali untuk bisa sembuh. 

Namun..., ketegaran Gitta dan semangatnya untuk terus bertahan hidup mampu membuatnya mengirup udara 6 bulan lebih lama. Dunia kedokteran pun dibuat tercengang atas keberhasilan tim dokter Indonesia memperlambat pertumbuhan sel kanker Ditta. Karena dalam beberapa kasus yang terjadi, kanker langka ini mampu merenggut nyawa hanya dalam hitungan hari. 
Ketika semua orang bersuka cita pada kesembuhan gitta, namun  rupanya kesempatan sembuh itu hanya sebuah kesempatan.
etelah 6 bulan.., kanker itu datang kembali dengan menjadi lebih ganas. Gitta pun pasrah melewatkan hidupnya dengan kanker yang semakin mengganas wajahnya hingga menyentuh paru parunya. 

Hebatnya, dengan wajah yang hampir menghilang dan menyerupai monster,  ia nekad ingin sekolah menyelesaikan pendidikannya. Hinaan bahkan cacian dari orang orang yang melihatnya tidak ia pedulikan. Dan, yang paling menyedihkan adalah ketika ujian kenaikan kelas disaat  tangannya tak mampu lagi bergerak hingga hidungnya mimisan mengeluarkan darah, dirinya masih ingin terus ujian dan lulus naik kelas. 
Tekadnya sekuat baja sampai - sampai ibu Megawati memberikan penghargaaan khusus padanya sebagai siswa teladan.

Tapi.... kematian adalah sebuah kepastian. Tuhan mempunyai rencana lain dalam diri gadis itu. Membebaskannya dari rasa sakit yang dideritanya. 
Dan akhirnya,  setelah 3 tahun lamanya ia berperang melawan ganasnya kanker, Tuhan datang menjemputnya. 

Biografi Ditta ditulis ulang oleh Agnes Danovar dan diterbitkan oleh Gramedia. Kisah yang menyentuh ini merupakan sebuah inspirasi kehidupan. Bagaimana seorang gadis kecil mampu berjuang dengan begitu hebatnya, hingga di detik - detik kematiannya... ia dapat merampungkan Sebuat surat yang ditujukan kepada Tuhan dan kepada kita semua....





Menpera: Perumahan Penghasilan Rendah Jangan Dipungut Biaya IMB

Posted: 23 Nov 2011 12:50 AM PST

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz meminta seluruh pemerintah daerah di kabupaten dan kota di seluruh Indonesia untuk tidak memungut biaya izin mendirikan bangunanm, sebagai sumber penerimaan asli daerah (PAD). Menurut Menpera, hal itu dimaksudkan agar biaya angsuran rumah sederhana untuk pegawai negeri sipil dan rakyat kecil tidak semakin mahal.

Hal itu dikatakan Menpera dalam sebuah acara di Jakarta, baru-baru ini. Menpera mengatakan fokus utama yang harus dilakukan adalah program stimulan perumahan dan pemukiman, serta program penanganan perumahan dan pemukiman berbasis kawasan. Faridz mengatakan, biaya IMB tidak harus dipungut khusus untuk pengembang yang membangun perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.(DSY)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar